Minggu, 29 Maret 2009

Kisah Lucu Sekaligus Pilu Menjelang Pemilu

Selalu ada pengalaman menarik saat menemani Mas Caleg merajut silaturahmi. Seperti hari ini, kami berdua harus melewati jalan pegunungan tak beraspal menuju pelosok pedesaan yang hampir tak tersentuh angkutan. Yang kutahu, angkutan hanya melewati desa ini dua kali seminggu tepatnya di hari pasaran. Aku tidak biasa ke desa ini kecuali saat lebaran mengantarkan Ibu berkunjung ke mantan atasannya.

Mas Caleg masih setia membawa motor butut yang usianya lebih tua dariku. Mau gimana lagi, motor itulah harta paling berharga yang menghiasi rumah semi permanennya. Ia pun tak marah saat ada orang yang bercelotah bahwa caleg dari PKS adalah caleg yang paling nelangsa. Berbeda dengan partai lain yang saat datang ke desa itu membawa hartop mewah lengkap dengan puluhan pengawalnya. Sedangkan ia hanya membawa sepeda motor hampir bodol bersama diriku yang sama sekali tidak bertampang pengawal. Bahkan mungkin saja orang yang melihat kami berdua berjalan bersama akan mengira bahwa aku lah calegnya.
Tiga hari lagi PKS akan mengadakan Bhakti Sosial di desa itu. Hari ini adalah waktu yang tepat untuk berkoordinasi dengan tuan rumah sebelum pelaksanaan kegiatan. Sebab mulai besok sudak tidak ada waktu lagi untuk keperluan ini. Kami akan disibukkan oleh berbagai kegiatan serupa setiap harinya hingga menjelang hari tenang.
Setelah melewati medan terjal berbatu sambil sesekali bertanya kesana kemari, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan: sebuah rumah berada di tepi jalan yang berdekatan dengan kali. Sebuah plang bertuliskan “Dewan Pimpinan Ranting PKS Desa Wadas” terpampang di rumah itu.
Kedatangan kami disambut oleh sapaan santun pemuda berambut gondrong yang ternyata si empunya rumah. Tidak ketinggalan seorang wanita muda tak berjilbab—yang kira-kira berumur 28-an tahun menghampiri kami. Aku harus jujur mengatakan bahwa wanita itu cukup cantik untuk kalangan gadis pegunungan. Kulitnya putih tak seperti kebanyakan wanita petani. Ia pun bersolek serta berpakaian terbuka yang tak lazim diakukan oleh gadis desa.
Aku tak kuasa menolak saat wanita itu tiba-tiba meraih tanganku untuk berjabat tangan. Padahal aku sudah meletakkan tangan didepan dada—sebagai isyarat bahwa aku tidak terbiasa bersalaman dengan wanita. Sempat kudengar ia mengatakan kata-kata laiknya saat lebaran tiba. Perasaan tidak enak muncul saat tiba-tiba wanita itu memuji ketampananku (sebenarnya aku tidak nyaman menuliskan ini, tapi mau gimana lagi??) Sebuah ucapan yang kebanyakan wanita malu untuk mengatakannya.
Aku mulai curiga saat mendengar wanita itu terus menerus berbicara. Orang di sekitarnya tak ada yang melebihi ke-ceriwisannya, termasuk Mas Caleg yang terbiasa berorasi di depan konstituennya. Saat Mas Caleg masuk ke dalam rumah, aku masih berbasa basi dengan salah seorang yang berada di dekatku. Wanita itu mendekatiku, menanyai alamat rumahku, lalu duduk didekatku. Aku pun hanya menjawab seperlunya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku pun segera menyusul Mas Caleg masuk ke dalam rumah. Tapi wanita itu terus mengikutiku.
Di dalam rumah, kami tidak langsung membahas persiapan kegiatan. Kami justru membicarakan tentang wanita itu. Ha? Ya, sedikit aneh memang, kami seperti menggunjing orang di depan orang yang digunjingkan. Namun ini tidak masalah, sebab ternyata wanita itu adalah pengidap gangguan jiwa. Dia pun sesekali menanggapi pembicaraan kami meski sama sekali tidak nyambung dengan konteksnya.
Tuan rumah bercerita bahwa wanita itu adalah tetangganya yang mengalami gangguan jiwa sejak sekitar 1 tahun yang lalu. Dahulunya ia adalah salah satu wanita tersukses di desa ini. Saat kebanyakan wanita desa ikut suami, ia bisa mencari harta sendiri. Saat warga desa belum punya elpiji, wanita itu sudah memiliki. Saat orang di sekitarnya belum punya televisi, ia sudah memiliki. Kisah pilunya bermula saat ia cekcok dengan sang suami di saat kehamilannya yang kedua. Konon beberapa waktu setelah anaknya lahir, ia terjatuh dan tak sadarkan diri dalam waktu yang relatif lama. Begitu sadar, tahu-tahu sudah jiwanya sudah labil. Akhirnya ia diceraikan oleh suaminya. Namun penderitaannya tidak sampai disini saja, sebab saat ia dibawa ke ‘orang pintar’ untuk diobati, ia justru menjadi objek pemuas nafsu oleh seseorang hingga hamil untuk yang ketiga kalinya. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya—apakah si orang pintar ataupun sang pengantar.
Kini anak-anaknya tinggal dua karena yang satu telah tiada. Salah satu dari anaknya sudah sekolah. Saat aku disana sempat kudengar teriakan anaknya menggema menyaingi gemericik air sungai. Maaaaaak……. Pulaaaaaaaaaaang!
Wanita itu hanya tertawa dengan komentar sinisnya, sedangkan hatiku teriris, terluka. (gunt).
Bener, 28 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar